Keigo Higashino · Novel
Di sebuah toko kelontong tua yang telah lama tutup, surat-surat berisi kegelisahan hati dari masa lalu masih dijawab — oleh tiga orang pencuri yang tersesat di malam yang tak seharusnya ada.
Baca SinopsisSeret untuk memutar buku
Tiga pemuda — Atsuya, Shota, dan Kohei — bersembunyi di sebuah toko kelontong tua yang terbengkalai setelah mobil mereka mogok usai melakukan pencurian. Toko Namiya itu seharusnya kosong, gelap, dan sunyi. Namun di tengah malam, sebuah surat jatuh melalui lubang surat di pintu gulungnya.
Surat itu ternyata ditulis puluhan tahun silam — dari seseorang yang hidup di era ketika toko itu masih buka dan pemiliknya, Kakek Yuji Namiya, menjawab setiap surat konsultasi tentang kehidupan dengan tulus. Tanpa sengaja, ketiga pemuda itu mulai membalas surat-surat dari masa lalu: seorang atlet yang harus memilih antara mimpi Olimpiade dan kekasihnya yang sekarat, seorang musisi yang mempertaruhkan segalanya, seorang anak yang kehilangan kepercayaan pada orang tuanya.
Malam itu, toko kelontong menjadi jembatan antara dua zaman — dan setiap jawaban yang mereka tulis diam-diam mengubah jalan hidup banyak orang, termasuk jalan hidup mereka sendiri.
お悩み相談、承ります。
どんな手紙にも、必ず返事を書きます。
— Tulisan di papan toko Namiya —
Silakan berkonsultasi tanpa ragu-ragu. Setiap surat yang masuk akan dibalas dengan serius oleh Kakek Yuji Namiya, pemilik Toko Kelontong Namiya. Bermula dari pertanyaan iseng anak-anak, hingga pertanyaan serius mengenai keluarga, masa depan, bahkan keputusan antara hidup dan mati.
Seorang atlet anggar calon Olimpiade menulis surat karena sang kekasih divonis sakit keras — tepat ketika ia harus menjalani pemusatan latihan. Ia harus memilih: cita-cita, atau cinta. Jawaban dari "Toko Namiya" datang dari zaman yang bahkan belum mengenal boikot Olimpiade Moskow.
Seorang pemuda meninggalkan kuliahnya demi musik, meski ditentang keluarga pemilik toko ikan di kampung halaman. Bertahun-tahun tanpa hasil, hingga sebuah konser kecil di panti asuhan mengubah makna lagu yang ia ciptakan — dan nasib seorang anak yang kelak menjadi penyanyi terkenal.
Di malam peringatan 33 tahun wafatnya Kakek Namiya — malam ketika konon jendela waktu toko itu terbuka kembali — tiga pemuda menemukan bahwa surat-surat yang mereka jawab, dan kehidupan yang mereka ubah, selalu terhubung pada satu tempat: Panti Asuhan Taman Marumitsu. Lingkaran keajaiban itu pun menutup.
浪矢 雄治
Pemilik toko kelontong yang memulai tradisi menjawab surat konsultasi — dari pertanyaan iseng anak-anak hingga kegelisahan terdalam orang dewasa.
敦也・翔太・幸平
Tiga pencuri yang bersembunyi di toko tua dan tanpa sengaja menjadi "Kakek Namiya" bagi para penanya dari tahun 1980.
月のウサギ
Atlet calon Olimpiade yang terbelah antara pemusatan latihan dan kekasihnya yang divonis tidak punya banyak waktu.
魚屋ミュージシャン
Pemuda yang menukar masa depan yang aman demi musik — dan sebuah lagu yang hidupnya melampaui hidupnya sendiri.
グリーンリバー
Akhir kehidupan yang menimpa pengirim surat ini membuat Kakek Namiya memutuskan untuk menutup tokonya.
ポール・レノン
Permasalahannya dengan keluarga menginspirasi Kakek Namiya menciptakan sistem korespondensi anonim di toko kelontongnya.
迷える子犬
Seorang wanita yang meminta saran finansial. Suratnya menjadi surat pamungkas — dan keberadaannya mengurai benang merah yang kusut antara Toko Kelontong Namiya dan Panti Asuhan Taman Marumitsu.
"…satu-satunya alasan nasihatku bisa membantu mereka tidak lain karena niat si pengirim surat sendiri. Seandainya mereka tidak berkeinginan menjalani hidup dengan baik dan tekun, mungkin jawaban apa pun yang kuberikan tidak akan ada gunanya bagi mereka."— Halaman 173